Etika dan Hukum Kesehatan: Malpraktek dan Kelalaian, apa bedanya?

malpraktek Malpraktek adalah kelalaian dari seorang dokter atau perawat untuk menerapkan tingkat ketrampilan dan pengetahuannya di dalam memberikan pelayanan pengobatan dan perawatan terhadap seorang pasien yang lazim diterapkan dalam mengobati dan merawat orang sakit atau terluka di lingkungan wilayah yang sama.

Malpraktek adalah suatu istilah yang memiliki konotasi buruk, bersifat stigmatis. Praktek buruk dari seseorang yang memgang profesi dalam arti umum. Tidak hanya profesi kedokteran saja, namun juga untuk beberapa profesi lain seperti ahli hukum, insinyur, maupun bidan. Namun memang istilah malpraktek selalu diasosiasikan kepada profesi medis.

Malpraktek dan kelalaian terkadang sukar untuk dibedakan. Dan ada sebagian besar yang menganggap bahwa malpraktek merupakan sinonim dari professional negligence (kelalaian profesi). Namun ada beberapa ahli mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap pernyataan diatas. Kelalaian memang termasuk dalam arti malprakrek, tetapi di dalam malpraktek tidak selalu harus terdapat unsur kelalaian.

Jika dilihat dari beberapa definisi, malpraktek memiliki arti yang lebih luas dibanding dengan kelalaian. Karena selain mencakup arti kelalaian, istilah malpraktek pun mencakup tindakan-tindakan yang disengaja dan melanggar undang-undang. Didalam arti kesengajaan tersirat ada motifnya. Sedangkan arti kelalaian lebih berintikan ketidaksengajaan, kurang teliti, kurang hati-hati, acuh tak acuh, sembrono, tak peduli terhadap kepentingan orang lain, namun akibat yang timbul memang bukanlah menjadi tujuannya. Harus diakui bahwa kasus malpraktek murni yang berintikan kesengajaan dan yang sampai terungkap ke pengadilan memang tidak banyak. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa malpraktek dalam arti luas dapat dibedakan antara tindakan yang dilakukan:

  1. Dengan sengaja, yang dilarang oleh peraturan perundang-undangan, atau malpraktek dalam arti sempit, misalnya dengan sengaja melakukan abortus provocatus tanpa indikasi medik, melakukan euthanasia, memberi keterangan medik yang isinya tidak benar, dan sebagainya.
  2. Tidak dengan sengaja atau karena kelalaian, misalnya menelantarkan pengobatan pasien karena lupa atau sembarangan sehingga pasien penyakitnya bertambah berat atau meninggal.

Perbedaan yang lebih jelas tampak kalau kita melihat pada motif yang dilakukan, yaitu:

  1. Pada malpraktek (dalam arti sempit): tindakannya dilakukan secara sadar, dan tujuan dari tindakannya memang sudah terarah kepada akibat yang hendak ditimbulkan atau tak peduli terhadap akibatnya, walaupun ia mengetahui atau seharusnya mengetahui bahwa tindakannya itu bertentangan dengan hukum yang berlaku, sedangkan
  2. Pada kelalaian: tidak ada motif ataupun tujuan untuk menimbulkan akibat yang terjadi. Akibatnya yang timbul disebabkan karena adanya kelalaian yang sebenarnya terjadi diluar kehendaknya.

Daftar pustaka:

Guwandi, J.,SH. 1994. Kelalaian Medik (Medical Negligence). Jakarta: FK-UI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s